Kamis, 20 Maret 2014

HIKMAT



HIKMAT
(Ir. Roland Hutajulu)
Tetapi oleh Dia kamu berada dalam Kristus Yesus, yang oleh Allah telah menjadi hikmat bagi kita. Ia membenarkan dan menguduskan dan menebus kita. (I Korintus 1, 30)

Saudara yang kekasih, di dalam kamus bahasa indonesia, hikmat itu diartikan adalah bijak, arif, dan juga hikmat itu diartikan adalah sakti.

Hikmat dapat kita defenisikan, yaitu suatu kemampuan yang dimiliki seseorang berupa pengetahuan yang dapat menyelesaikan persoalan yang dihadapi, dan dia juga mempunyai kemampuan untuk menindaklanjuti atau melaksanakan pengetahuan yang dimilikinya tersebut menjadi solusi penyelesaian persoalan dimaksud.

Saudara kekasih di dalam Tuhan Yesus Kristus, Hikmat kadang-kadang sulit kita pahami, apakah hikmat itu harus selalu lurus, jujur dan penuh kebenaran, karena ada hikmat ketika disimak lebih dalam, kelihatannya bertentangan dengan ketentuan dan peraturan yang berlaku. Sebagai contoh; ketika Salomo harus menetapkan siapa ibu dari seorang bayi yang sedang diperebutkan oleh dua orang ibu yang saling berseteru, Salomo menempuh kebijakan yang melanggar hukum taurat yaitu dengan mengucapkan kata “bunuh” yang kita tahu bahwa membunuh tidak diperbolehkan dalam hukum taurat.

Berdasarkan kisah bayi yang diperebutkan oleh dua orang ibu tadi, dalam prosesnya ketika hikmat itu dipergunakan untuk menentukan keputusan yang adil, terkadang ketentuan hukum dan normatif harus di langgar terlebih dahulu untuk mengetahui siapa yang benar, siapa yang salah dalam sebuah kasus, sehingga melalui kebijakan atau hikmat tersebut, menjadi terlihat dengan jelas masalah apa yang sesungguhnya terjadi dalam kasus atau persoalan yang di hadapi.

Saudara yang kekasih dalam  Yesus Kristus,
I Korintus 1, 30, yang menjadi perikop kita saat ini, dinyatakan bahwa kita yang berada dalam Yesus Kristus, oleh Allah, menjadi hikmat bagi kita. Didalam Kitab Yohanes disebut bahwa Yesus Kristus adalah Firman Allah (Yohanes 1, 14) yang oleh rasul Paulus menjadi hikmat bagi kita. Oleh karena itu kita yang sudah menerima atau berada dalam Yesus Kristus adalah orang yang berhikmat, yang punya kemampuan untuk mengatasi segala persoalan yang datang kepada kita.

Allah yang telah memberikan AnakNya yang Tunggal Yesus Kristus menjadi hikmat bagi kita, yang tentunya disaat kita memiliki masalah, kita dimampukan oleh Tuhan Allah untuk menyelesaikan persoalan hidup kita. tanpa ragu-ragu, dan tanpa ketakutan.

Berbicara mengenai hikmat, kalau kita simak didalam kitab Korintus, ternyata hikmat dapat juga berasal dari dunia ini, pemahaman dunia dalam hal ini adalah dari penguasa kegelapan. Oleh karena itu kita harus ekstra hati-hati untuk menafsirkan hikmat yang diperhadapkan pada kita, apakah hikmat tersebut adalah dari Dunia ini atau dari Tuhan Allah, sebab perbedaan hikmat dimaksud cukup tipis. Didalam Lukas 7, 35, dikatakan bahwa Hikmat harus dibenarkan oleh semua orang yang menerimanya.

Ilustrasi ini, mungkin dapat memberi pemahaman bagi anda seperti apa hikmat dari Allah dan hikmat dari Dunia ini;
Suatu waktu seorang bapak pergi kepasar dengan menaiki sepeda, hendak membeli buah semangka, seperti biasanya penjual semangka selalu menggangtungkan contoh semangka yang sudah dibelah di tempat penjualannya. Sudah barang tentu barang contoh yang dipajang adalah semangka yang terbaik, buahnya segar dan warnanya memikat. Si bapak meminta pada penjual semangka, bahwa ia ingin membeli semangka yang kualitasnya seperti contoh barang yang dipajang. Si penjual mengambil semangka sesuai pesanan si bapak tersebut. Semangka yang dibeli tersebut, di ikat dan digantug di tempat stang (kemudi) sepedanya. Dalam perjalan pulang, ternyata ada pengendara sepeda motor yang berlawan arah dengan si bapak dalam keadaan ngebut, hendak melewati sebuah mobil angkot, rupanya mobil yang akan dilewati juga akan melewati pengendara becak, sehingga mobil bergeser kesebelah kanan untuk mendahului pengendara becak, dengan kondisi demikian, si pengendara sepeda motor hilang kendali dan menabrak sibapak yang membawa semangka tersebut. Si bapak terjatuh dan semangkanya juga terpecah-pecah akibat tubrukan sepeda motor. Si bapak cepat-cepat berdiri, namun disayangkan semangkanya sudah berderai. Sibapak melongo dan heran memandang semangka yang dibelinya ternyata warnanya pucat kekuning-kuningan. Sibapak berpikir, bahwa ia sudah ditipu oleh si penjual semangka, karena semangka yang dibeli seharusnya isinya berwarna merah segar. Berhubung jarak jatuhnya si bapak belum terlalu jauh dari tempat sipenjual semangka, maka dengan hati yang dongkol dan sedikit marah, si bapak menemui si penjual, dan bertanya mengapa semangka yang dibeli adalah semangka yang warnanya pucat kuning, sementara yang diminta adalah yang merah segar. Melihat kondisi semangka yang ditunjukkan si bapak, sipenjual agak heran dan bertanya, mengapa semangkanya berderai seperti itu, kemudian si bapak menceritakan kejadiannya kepada si penjual. Saat itu si penjual mendapat hikmat dan berkata pada si bapak, “ bapak tahu tidak!”, orang aja pucat, kalau tabrakan, apalagi semangka ini tentulah jadi pucat” mendengar kata-kata itu, sibapak diam terkesima mendengar jawaban si penjual semangka, dan tidak bertanya lagi.

Saudara yang kekasih, si bapak tadi ketika mendengar pernyataan si penjual semangka, membenarkan apa yang disampaikan oleh sipenjual semangka, karena sipenjual tersebut memiliki hikmat untuk menjawab si bapak. Akan tetapi yang menjadi pertanyaan apakah hikmat si penjual semangka tersebut adalah hikmat dari Tuhan Allah, atau dari Dunia. Sipenjual memang lepas dari tuntutan dari si bapak tersebut karena si bapak tersebut dapat menerima alasan sipenjual.

Saudara yang kekasih, untuk membedakan hikmat dari Allah dengan hikmat dari dunia ini, adalah dengan melihat manfaat atau hasil yang muncul dari hikmat tersebut. Kalau hikmat dari Allah, semua pihak merasa tidak ada yang dirugikan karena mereka melihat kebenaran menjadi nyata atau terlihat jelas. Sebagaimana yang kita lihat ketika Salomo berhikmat, bahwa ibu palsu dari sibayi tersebut akhirnya mengakui juga kesalahannya. Sementara dari illustrasi tadi, sipenjual semangka tidak mau mengakui kesalahannya, dan si bapak pembeli semangka tersebut, sekalipun membenarkan sipenjual, sebenarnya dia bingung atas jawaban si penjual semangka.

Saudara-saudara yang kekasih dalam Yesus Kristus;

Semua orang yang sudah menerima Yesus Kristus berhak mendapatkan hikmat, karena Allah memberi hikmat tidak membeda-bedakan status, umur, suku dan ras. Artinya siapa saja dapat memiliki hikmat dari Allah, selama Tuhan berkenan. Oleh karena itu, Hikmat juga bisa datang kepada anak-anak sekalipun masih kecil, sehingga persoalan yang besar dapat terselesaikan. Illustrasi berikut ini mungkin dapat memberikan pemahaman bagi anda;

Sebuah keluarga, yang mempunyai seorang anak, dan di dalam keluarga ini, ayah dari suami ikut bersama-sama dengan keluarga tersebut. Ayah si suami atau mertua si istri, atau kakek si anak, mengidap penyakit stroke. Sang istri sebenarnya kurang setuju mertuanya ikut bersama mereka. Karena dalam kehidupan sehari-hari, kehadiran si kakek menjadi beban berat bagi sang istri, hal ini disebabkan karena kondisi si kakek yang stroke terkadang mengakibatkan barang pecah belah di rumah menjadi jatuh tersenggol atau terjatuh dari tangan si kakek. Demikian juga saat makan pun kadang-kadang piring pecah karena terjatuh dari meja, termasuk nasi dan lauk pauk sering berjatuhan dan berantakan ditempat dimana si kakek duduk. Memperhatikan hal tersebut si istri mengusulkan pada suaminya, agar si kakek kalau makan tidak lagi di meja makan, melainkan dimeja khusus tersendiri dan posisinya berdekatan dengan kamar mandi, dan untuk menghindari jangan ada lagi piring dan gelas yang pecah, maka si kakek dibuatkan piring dan cangkir dari bahan baku kayu. Demikianlah si kakek sejak saat itu, makan harus menyendiri ditempat yang berdekatan dengan kamar mandi. Setelah peristiwa tersebut berlangsung beberapa lama, si anak yang masih berusia delapan tahun, ternyata memperhatikan sikakek jadi semakin menderita, karena tidak pernah lagi merasakan kebersamaan.

Suatu saat si anak sengaja berada di depan rumah sampil mengosok-gosok selembar papan pendek dengan sebuah pisau. Hari pertama orang tua si anak, baik ayah maupun ibunya, tidak terlalu perduli dengan apa yang dilakukan si anak, mungkin mereka pikir apa yang dilakukan si anak adalah untuk kegiatan pelajaran ketrampilan di sekolah. Namun karena si anak melakukan hal yang sama selama berminggu-minggu, sehingga ibunya bertanya pada si anak, untuk apa papan tersebut digosok-gosok dengan pisau berhari-hari. Sianak menjawab dengan penuh hikmat, “ Mama, ini papan saya persiapkan untuk menjadi piring mama nantinya, apabila mama sudah tua seperti kakek” mendengar jawaban anaknya, sang istri tiba-tiba merasa seperti terkena strom listrik, aliran darahnya mengalir deras sampai ke ubun-ubun dan jantungnya berdebar, dan dalam benaknya langsung membayangkan dirinya  dalam keadaan tua renta dan peyot, sedang makan di samping kamar mandi, sebagaimana biasanya dia menyaksikan mertuanya sehari-hari.

Setelah itu, sang ibu menangis sambil memeluk anaknya, dan selanjutnya mencari ayah mertuanya untuk bersujud dan minta maaf.

Saudara yang kekasih, hikmat dari Allah dapat menghasilkan pertobatan dan memberikan damai yang penuh belas kasihan, sebagaimana yang tertulis dalam Yakobus 3, 17. “Tetapi hikmat yang dari atas adalah pertama-tama murni, selanjutnya pendamai, peramah, penurut, penuh belas kasihan dan buah-buah yang baik, tidak memihak dan tidak munafik”

Saudara-saudara yang terkasih dalam Yesus Kristus,

Hikmat juga dapat memberikan perasaan seseorang untuk memaklumi suatu keadaan menjadi suatu kebenaran, sekalipun dalam kenyataannya, keadaan tersebut belum sesuai sebagaimana yang diharapkan. Illustrasi berikut ini mungkin dapat memberikan pemahaman anda tentang hal ini;

Di Pulau Papua, tepatnya di Papua Barat, ada sebuah keluarga Kristiani, tinggal disebuah Desa yang belum memiliki fasilitas listrik (belum terjangkau PLN), seorang anak yang masih sekolah menyampaikan maksudnya kepada Bapaknya dengan diawali pertanyaan, “bapak?” “Tuhan itu baik toh”, “Tuhan itu maha pengasih kan bapa?”, dan “Tuhan itu sanggup memberi apa yang kita butuhkan?”. Kalimat seperti itu sudah terbiasa di ajarkan kepada si anak, ketika si anak di sekolah minggu. Si Bapak mendengar pertanyaan anaknya, dengan perasaan syukur, karena anaknya sudah dapat memahami arti kebaikan Tuhan, kemudian si bapak menjawab “o, iya” “Tuhan itu sungguh amat baik anakku”. Kemudian si anak berbicara lagi sama bapaknya. Kalau begitu bapak, mari kita berdoa minta kepada Tuhan agar matahari menjadi dua, supaya saya dapat belajar juga pada waktu malam. Si bapak berfikir sejenak, karena permintaan anaknya sangat sulit dijawab, si bapak memaklumi bahwa anaknya belum mengerti batasan-batasan meminta atau memohon pada Tuhan. Kemudian dengan hikmat si bapak menjawab, “anakku, coba lihat badan kita ini, dengan satu matahari saja, kulit kita ini sudah sedemikian hitamnya, bagaimana nanti kalau sampai matahari jadi dua, bisa-bisa kulit kita ini lebih hitam dan kelihatannya seperti hangus”, “sudalah kita terima aja matahari cukup satu ya nak?”, kalau masalah belajar, nanti bapak belikan lampu yang lebih terang.

Hikmat yang ada pada bapak si anak tersebut, membuat si anak dapat memahami dan memaklumi tentang keberadaan atau situasi yang terjadi, sekalipun si anak belum mendapatkan apa yang dia inginkan.
Saudara yang kekasih dalam Yesus Kristus,

Sebagai manusia yang memiliki keterbatasan, sering kali kalau hikmat jika sudah diperhadapkan dengan kepentingan materi atau uang, hikmat tersebut menjadi sirna, maksudnya, kalau hikmat yang ada pada kita ketika diadu dengan kepentingan materi, kita selalu memprioritaskan kepentingan materi dibanding dengan yang lainnya. Saking hebatnya pengaruh kepentingan materi tersebut, sampai muncul anekdot yang mengatakan bahwa uang/materi yang mengatur negara ini dalam bahasa Batak disebut “hepeng do mangatur negara on”. Sering kita kehilangan investasi kebahagiaan di dalam kehidupan keluarga kita karena lebih memikirkan kepentingan materi. Illustrasi ini mungkin dapat  memberikan inspirasi atau pemahaman pada anda;

Seorang ayah baru pulang dari kantornya dengan sepeda motor sambil membawa laptop. Saat dia sampai dirumah, disambut oleh anak sulungnya yang masih berumur 3 tahun. Si ayah meletakkan laptopnya di teras rumah, seraya memarkirkan sepeda motornya ke garasi. Anaknya yang masih berumur 3 tahun tersebut, bermaksud membantu ayahnya untuk menyimpankan laptop bapaknya ke meja dimana biasanya bapaknya meletakkan laptop tersebut. Begitu si ayah melihat anaknya memegang laptopnya, secara tiba-tiba si ayah marah luar biasa sama si anak, melarang anaknya memegang laptopnya karena takut jatuh dari tangan si anak. Si ayah berpikir kalau laptopnya terjatuh, akan keluar uang yang cukup besar untuk memperbaiki atau mengganti laptop tersebut yang saat itu harga laptop memang cukup mahal. Mendengar si ayah marah sambil berteriak, si anak ketakutan luar biasa. Gara-gara peristiwa itu, si anak selalu takut menolong siapapun, dan akibat trauma ketakutan tersebut, si anak menjadi anak yang introvert dan selalu menyalahkan diri sendiri dalam situasi apapun dalam perjalanan hidupnya. Si ayah kehilangan investasi kebahagiaan, karena si anak selalu tidak berani tampil dan selalu mengurung diri pada siapapun, termasuk pada ayahnya tidak berani lagi bertanya atau meminta apapun yang diinginkannya.

Saudara yang kekasih, Tuhan Yesus yang adalah Fiman, yang diutus oleh Tuhan Allah untuk kita, menjadi hikmat bagi kita. dan hikmat itu  kita memiliki, bukan karena kehebatan ilmu pengetahuan kita dari sekolah yang cukup tinggi, atau karena kita memiliki materi yang cukup banyak di dunia ini, melainkan karena Tuhan Allah mengasihi kita.

Dalam bermasyakat, dan menjaga hubungan dengan sesama, apapun posisi kita, seperti apapun keberadaan atau eksistensi kita, kita harus ingat bahwa kita sudah diberi hak untuk menerima hikmat dari Tuhan Allah untuk dapat berperan aktif dalam masyarakat atau lingkungan kita.

Rasul Paulus menyampaikan bahwa dalam menjalin hubungan dengan sesama, hubungan dalam lingkungan masyarakat, kita harus dikuasai oleh kekuatan kasih karunia Allah, sehingga kita melaksanakan dengan ketulusan dan kemurnian melalui hikmat Allah, bukan hikmat duniawi (II Korintus 1, 12)

Saudara yang terkasih,
Yesus Kristus yang adalah firman, menjadi hikmat bagi kita, sehingga kita yang sudah menerima kristus Yesus, juga memiliki kemampuan membedakan himat dunia dengan hikmat Allah, dan juga memiliki kemampuan melawan hikmat dunia ini. Firman Tuhan sebagaimana tertulis dalah Alkitab, menjadi pedoman hidup kita, seperti tertulis dalam II Timoteus 3, 15 yang menyatakan “ Ingatlah juga bahwa dari kecil engkau sudah mengenal Kitab Suci yang dapat memberi hikmat kepadamu dan menuntun engkau kepada keselamatan oleh iman kepada Kristus Yesus “

Firman Allah harus tetap menjadi pegangan hidup kita, yang merupakan hikmat bagi kita untuk menuntun kita kepada keselamatan, sebab kita sudah dibenarkan Allah karena iman kita dalam Yesus Kristus, dan kita hidup dalam damai sejahtera dengan Allah, oleh karena Tuhan kita Yesus Kristus (Roma 5,1)

Sebagai orang yang berhikmat, mari kita tingkatkan pelayanan kita di Dunia ini, demi kemuliaan Tuhan Yang Maha Kuasa, Bapa Sorgawi.  Amin.

Pekanbaru, Medio Maret 2014

Ir. Roland Hutajulu

Minggu, 07 Oktober 2012

QUO VADIS PERUSAHAAN PENCEMAR DANAU TOBA



QUO VADIS PERUSAHAAN PENCEMAR DANAU TOBA, HARUSKAH DITUTUP ?
OLEH Ir. ROLAND HUTAJULU

Cukup membanggakan perhatian tokoh masyarakat, pejabat dan politikus tentang eksistensi Danau Toba saat ini, terutama berkaitan dengan pencemaran yang terjadi di danau Toba. Hanya saja sangat disayangkan bahwa pernyataan-pernyataan yang disampaikan belum mengarah kepada solusi pemecahan persoalan yang sedang terjadi. Tapi lebih cenderung hanya menyalahkan saja, baik itu kepada pemerintah, perusahaan dan masyarakat tertentu. Khusus bagi perusahaan yang dianggap sebagai  penyumbang pencemaran danau Toba,  selalu diminta untuk segera ditutup.  

Salah satu perusahaan yang dianggap penyumbang pencemaran danau Toba adalah Perusahaan Peternakan PT ALLEGRINDO NUSANTARA (PT AN), yaitu dengan membuang limbah kotoran ternak baik yang padat maupun cair secara langsung ke danau Toba, sehingga Perusahaan ini perlu segera ditutup untuk mencegah pencemaran di danau Toba.

Dari berbagai sumber termasuk dunia maya atau internet. Dari informasi yang saya temukan ternyata PT AN terletak di Kelurahan Tiga Runggu Kecamatan Purba telah membuang limbah cair ke danau Toba selama 16 tahun ini sebesar 1.200 m3 per hari dikali 365 hari dikali 16 tahun yaitu 7.008.000 m3. Dan limbah padat sebesar 60.000 kg per hari dikali 365 hari dikali 16 tahun sama dengan 350.400.000 kg.

Saya tertarik dengan permasalahan ini, mengapa sebegitu kejamnya perusahaan tersebut membuang limbah kotoran ternak langsung ke danau Toba, sementara kotoran ternak tersebut baik cair maupun padat sangat dibutuhkan oleh para petani untuk menjadi pupuk organik. Perlu diketahui, bahwa sepanjang perjalanan dari Kaban Jahe sampai ke Simarjarunjung (± 90 Km) adalah lahan pertanian dengan komoditi sayur-sayuran, kopi dan jeruk yang membutuhkan ribuan ton pupuk organik per bulan.

Tidak jauh dari lokasi PT AN, Japolin Purba pemilik warung kopi berkesempatan berbincang-bincang dengan penulis. Sebagai Ketua RT 20 Desa SAHALA Kelurahan Tiga Runggu, Kecamatan Purba. Japolin dan Jatin menjelaskan bahwa dulu perusahaan memberikan bantuan kepada masyarakat seperti rehabilitasi gereja Katolik, gereja HKBP dan gereja GKPS. Membangun MCK, sarana air bersih, rehabilitasi puskesmas, sekolah dan membangun jalan kampung, bantuan perlengkapan pertanian, membangun jaringan semua listrik sampai keperkampungan, membangun listrik genset jika PLN bermasalah, perbaikan jembatan, discount khusus untuk pembelian babi untuk pesta adat dan kemalangan, bantuan obat-obatan dan penyuluhan pertanian, rehabilitasi Kantor Camat Purba, Kantor Polsek Purba dan sekolah, bea siswa untuk siswa yang berprestasi mulai dari SD,SMP,SMA.

Tentang limbah berupa kotoran ternak baik berupa limbah padat (feses) maupun limbah cair (urine), Pak Jatin dan pak Japolin menyampaikan, “Perusahaan memang sudah melakukan pengolahan limbah dan limbah padat dijadikan kompos, kami masyarakat sebenarnya lebih suka dengan kotoran ternak yang masih mentah”, kemudian disampaikan lagi bahwa limbah cair (urine) yang sudah ditampung beberapa hari di kolam, sangat baik sebagai pupuk daun. “sebenarnya hal ini sudah sering kami sampaikan pada perusahaan” kata pak Jatin. “baru-baru ini ada PANJA di DPRD Kabupaten Simalungun, yang menghasilkan beberapa kesepakatan berupa bantuan perusahaan, namun kesepakatan tersebut tidak termasuk Desa SAHALA, akan tetapi hanya untuk masyarakat Desa Urung Panei I dan Urung Panei II,  sementara kami yang juga berdekatan dengan perusahaan tidak dilibatkan” seru pak Jatin kembali. Menyangkut apakah ada dalam kesepakatan tersebut yang berkaitan dengan pemanfaatan limbah atau kotoran ternak, Jatin menjawab bahwa dalam kesepakatan tersebut, berkaitan dengan limbah padat, adalah berupa KOMPOS yang diberikan gratis kepada masyarakat Urung Panei I, Urung Panei II dan Simpang Naga Panei sebanyak 10 truk colt diessel untuk setiap RT setiap minggu. “Berarti untuk Desa SAHALA tidak kebagian kompos dong” ujar saya kepada mereka, “makanya kami protes kepada Camat Purba, mengapa kami tidak dilibatkan” jawab pak Jatin kembali. “sebenarnya terkait dengan persoalan limbah terutama kotoran ternak, kalau PIMPINAN PERUSAHAAN mau duduk bersama dengan MASYARAKAT, tidak akan ada masalah” kata pak Jatin kembali yang juga di amini oleh pak Japolin. “dulu perusahaan banyak memperhatikan masyarakat setempat, akan tetapi setelah ada perubahan manajemen, maka kepedulian perusahaan menjadi berkurang banyak” sahut pak Japolin. Adanya pemberian kompos kepada masyarakat yang tidak merata, menjadi persoalan yang cukup serius, sehingga bagi masyarakat yang tidak kebagian kompos, mencari celah untuk menekan perusahaan, kata pak Jatin lagi.

Jika diasumsikan Peternakan tersebut akan menghasilkan limbah padat sebanyak 60.000 kg per hari. Dengan mengandaikan kotoran (feses) mentah dikumpul langsung kedalam karung, maka untuk 60.000 kg limbah tersebut diperkirakan membutuhkan 60 HOK/hari  atau sekitar Rp. 100.000.000,- per bulan. Kemudian untuk penanganan limbah cair sebesar 1.200 m3 per hari, dari proses pengolahan di kolam sampai didistribusikan ke masyarakat dengan menggunakan mobil Tanki diasumsikan membutuhkan biaya sebesar Rp. 120.000.000,- per bulan, maka total pengeluaran perusahaan untuk menangani limbah (FESES dan URINE)  adalah Rp. 220.000.000,- per bulan.

Dengan biaya tersebut, perusahaan saya perkirakan masih mendapatkan kontribusi margin yang cukup untuk setiap bulannya. Dan limbah Peternakan tersebut dapat semuanya digunakan masyarakat menjadi pupuk organik. Dengan demikian dapat dicegah pencemaran  limbah Peternakan PT AN ke danau Toba.

Jika memang masyarakat lebih membutuhkan limbah padat (feses) mentah, yang selanjutnya diolah sendiri oleh masyarakat menjadi pupuk organik, maka PT AN sebenarnya tidak perlu mengolah limbah (kotoran) ternak dengan biaya besar.

PT AN harus menata kembali pogram bantuan sosial kepada masyarakat sebagaimana pernah dilakukan sebelumnya, dengan menyisihkan sedikitnya sebesar 5% dari Laba Perusahaan. Agar program bantuan sosial tersebut menjadi tepat guna dan tepat sasaran, PT AN harus melibatkan masyarakat dan PEMDA setempat untuk ikut dalam perencanaan.

Issu yang berkembang tentang PT AN yang membuang limbah langsung ke danau Toba, lebih banyak disebabkan karena distribusi pemberian kompos yang tidak diatur sedemikian rupa, sehingga ada yang kebagian ada yang tidak, demikian juga bantuan sosial kepada masyarakat yang tidak merata.

Apabila penanganan limbah dapat diatasi dengan baik, melalui kerja sama dengan masyarakat, maka PT AN masih perlu dipertahankan, mengingat peranan PT AN kepada masyarakat setempat, khususnya berkaitan suplai ternak babi untuk acara adat (pesta), sangat diharapkan.

TULISAN INI TELAH DIMUAT DI HARIAN SINAR INDONESIA BARU TGL 5 OKTOBER 2012

Senin, 10 September 2012

HKBP MENYONGSONG PENINGKATAN PELAYANAN



HKBP MENYONGSONG ERA PENINGKATAN MUTU PELAYANAN
Oleh : Ir. Roland Hutajulu

Huria Kristen Batak Protestan (HKBP) adalah lembaga gereja Protestan terbesar di Asia Tenggara. HKBP dalam kapasitas sebuah lembaga gereja yang jemaatnya didominasi suku BATAK, semakin lama semakin berkembang, hal ini dilihat dari jumlah jemaat (huria) yang semakin lama semakin meningkat. Namun bila dilihat dari sudut pandang rasio antara jumlah masyarakat suku Batak dibandingkan dengan jumlah anggota jemaat HKBP, dewasa ini terjadi penurunan rasio, artinya masyarakat batak yang bukan HKBP semakin jauh meningkat. Tentu hal ini perlu menjadi perhatian bagi Majelis atau para pelayan HKBP, apakah perubahan yang cukup signifikan tersebut diakibatkan dinamika masyarakat yang secara normatif memang sudah seharusnya demikian, atau memang ada kelemahan-kelemahan mendasar yang harus diperhatikan dan perlu segera ditindaklajuti oleh HKBP melalui perubahan dan perbaikan-perbaikan pelayanan di jemaat HKBP.

Kemajuan teknologi dan informasi, dewasa ini sudah begitu cepat dan berkembang dengan pesat, sehingga kebuhutuhan rohani jemaat seperti khotbah (Firman Tuhan) dari berbagai media dapat diakses dengan mudah, terlepas sumbernya dari denominasi atau aliran (sekte) yang berbeda. Dinamika seperti ini perlu disikapi HKBP agar jangan ketinggalan metode dan teknologi. Acara kebaktian setiap minggu sudah waktunya dikemas sedemikian rupa agar singkat dan padat, terutama yang di perkotaan. Kaum remaja dan generasi muda cenderung menginginkan acara yang praktis tapi bermakna dan tidak bertele-tele, sehingga acara liturgis yang dibarengi dengan Koor yang terlalu banyak nampaknya bukan lagi pendorong atau motivasi untuk mengikuti ibadah minggu di HKBP. Untuk waktu ke depan HKBP sudah perlu memikirkan Stratifikasi Pelayanan Ibadah Minggu, dikaitkan dengan perkembangan psikologis, intelektual, dan wawasan jemaat.

KEUANGAN DAN INFORMASI

Dengan arus informasi serta teknologi media yang semakin maju, maka setiap issu baik yang positif maupun yang negatif dapat menyebar dengan cepat diantara jemaat atau masyarakat lainnya, oleh karena itu Parhalado harus dapat memanfaatkan ini sebagai peluang untuk peningkatan mutu pelayanan kepada jemaat. Umumnya arus informasi yang terjadi antara jemaat dengan pengurus gereja (parhalado) adalah melalui ting-ting atau warta jemaat, yang dapat dikatakan cukup terbatas. Khusus yang berkaitan dengan laporan keuangan jemaat  (huria) perlu adanya perbaikan. Sifat masyarakat (warga gereja) dewasa ini sudah semakin kritis dan semakin sensitif, terutama jika berkaitan dengan masalah keuangan. Sebagian besar jemaat saat ini berharap agar laporan keuangan tidak hanya menyampaikan uang yang masuk saja setiap minggunya, namun harus juga mencantumkan uang yang keluar lengkap dengan rinciannya. Untuk jemaat atau huria di perkotaan penyampaian laporan keuangan seperti ini tidak begitu sulit, karena laporan keuangan mingguan tersebut dapat disajikan lewat jaringan internet atau dengan membuka Web site atau Blogspot gereja (huria) tersebut, namun di pedesaan atau di bona pasogit nampaknya penyampaian laporan keuangan seperti ini, cukup sulit.

Pimpinan HKBP dapat mengambil langkah atau sikap tentang keterbukaan laporan keuangan ini, dengan menentukan bentuk laporan keuangan gereja untuk konsumsi umum, yang sudah mengikuti standar keuangan yang berlaku saat ini. Hal seperti ini perlu dimulai dari keterbukaan laporan keuangan ditingkat pusat (pimpinan), yang selanjutnya pada jemaat di bawahnya akan dapat mengikutinya dengan baik.

Selain informasi keuangan yang semakin terbuka, demikian juga halnya dengan informasi kegiatan atau aktivitas yang sudah diprogramkan, bahkan yang akan di programkan, seharusnya semakin terbuka melalui penyampaikan informasi yang cepat dan tepat. Dengan melibatkan anggota jemaat untuk berpartisipasi aktif dan positif dalam setiap aktivitas gereja melalui jaringan informasi yang semakin canggih (seperti minta saran dan pendapat jemaat), dapat menjadikan mutu pelayanan semakin meningkat.

BADAN PERTIMBANGAN PENDETA

Dalam tata gereja HKBP tahun 1930, kelembagaan jemaat HKBP menganut sistem Presbiterial Sinodal. Saat itu anggota jemaat diangkat menjadi pengurus gereja di bidang administrasi dan keuangan jemaat yang dikenal dengan “kasbestuur”, sedangkan pendeta, guru jemaat dan penatua mengurusi masalah kerohanian yang dikenal dengan “kerkeraad”. Nampaknya dalam era globalisasi dan era informasi sekarang ini sistim presbiterial sinodal tersebut, perlu dipertimbangkan kembali, yang tentunya melalui modifikasi yang akan disesuaikan dengan perkembangan zaman saat ini. Peran serta anggota jemaat sebagai pengambil keputusan atau setidak-tidaknya sebagai pemberi pertimbangan/rekomendasi perlu diberdayakan.

Memperhatikan keanekaragaman eksistensi jemaat (ruas) HKBP yang cukup tinggi terutama di perkotaan perlu adanya perhatian khusus pimpinan HKBP untuk membuat klasifikasi mutu pelayanan di lingkup jemaat HKBP. Artinya untuk jemaat yang tingkat ekonomi, wawasan dan intelektualnya cukup tinggi perlu penempatan pendeta yang memiliki kualitas pelayanan yang cukup handal, sehingga antara anggota jemaat, penatua dan pendeta, ada kesimbangan dan keselarasan wawasan. Kemampuan pendekatan psikologi,  komunikasi dan budaya dari setiap pendeta yang ditugaskan kepada setiap jemaat harus menjadi pertimbangan bagi pimpinan HKBP untuk menempatkan seorang pendeta ke suatu Jemaat (Huria).

Sistim episkopal yang dianut HKBP saat ini, yaitu segala keputusan termasuk penempatan pendeta yang selalu berkiblat pada kewenangan ephorus semata, sudah bukan waktunya lagi dipertahankan. Sekalipun ephorus telah melibatkan Sekjend, dan pimpinan departemen dalam penempatan pendeta, namun unsur pimpinan tersebut, nampaknya tidak mampu lagi mengakses perkembangan keberadaan jemaat (huria) secara menyeluruh, yang akan menjadi dasar pertimbangan atau tolak ukur untuk menempatkan seorang pendeta di suatu jemaat (Huria).

Untuk mengantisipasi hal ini  dalam rangka peningkatan mutu pelayanan HKBP, maka sudah waktunya HKBP memiliki THINK THANK sejenis BADAN PERTIMBANGAN PENDETA (BPP) yang merupakan badan independen yang terdiri dari Psikolog, Budayawan dan Ahli Teologia (Unsur Pendeta). Badan ini harus mempunyai kemampuan untuk mengakses setiap jemaat (huria). Kemudian badan ini juga memiliki akses untuk mengevaluasi dan melakukan penilaian pada setiap pendeta, sehingga badan ini dapat menentukan para pendeta yang tepat, yang akan ditempatkan di masing-masing jemaat (huria). Badan inilah yang memberikan rekomendasi kepada ephorus dalam hal penempatan seorang pendeta ke suatu jemaat (huria). BPP ini harus dapat berjalan secara berkesinambungan, dan tidak dipengaruhi oleh pergantian Pucuk Pimpinan HKBP (Ephorus), oleh karena itu anggota BPP ini sebaiknya dipilih oleh Rapat Sinode, sehingga independensinya dapat berjalan dengan baik.  Anggota BPP yang sudah terpilih oleh Sinode adalah merupakan BPP tingkat pusat, yang kemudian akan membentuk BPP di tingkat Distrik. Anggotanya dipilih dari Jemaat (ruas) di Distrik bersangkutan.

Saya yakin para pendeta akan selalu berusaha untuk meningkatkan mutu pelayanannya melalui sistim ini. Dengan adanya sistim ini, diharapkan tidak akan ada lagi kelompok-kelompok pendeta yang muncul pada setiap periode pemilihan ephorus. Dan kata-kata yang kurang enak didengar oleh telinga seperti kata “dang hita i”, setelah terpilih ephorus, tidak ada lagi. Disamping itu jemaat (ruas) pun akan bertindak independen dan legowo untuk menerima pendeta yang ditempatkan di gerejanya, karena pelayan yang diutus kepada jemaat mereka adalah pelayan yang sudah melalui hasil kajian dan pertimbangan yang tepat, sehingga tidak ada lagi kita mendengar perpecahan anggota jemaat, hanya karena dukung dan tidak mendukung pendeta yang melayani mereka.

Harapan Rasul Paulus kepada HKBP sebagaimana tertulis dalam Efesus 4 ayat 11 – 13 yang menyatakan “ Dan Ialah (Yesus Kristus) yang memberikan baik rasul-rasul maupun nabi-nabi, baik pemberita-pemberita injil maupun gembala-gembala dan pengajar-pengajar, untuk memperlengkapi orang-orang kudus bagi pekerjaan pelayanan, bagi pembangunan tubuh Kristus, sampai kita semua telah mencapai kesatuan iman dan pengetahuan yang benar tentang Anak Allah, kedewasaan penuh, dan tingkat pertumbuhan yang sesuai dengan kepenuhan Kristus” akan dapat terwujud.

SELAMAT BERSINODE, semoga Tuhan Yesus Kristus sebagai Kepala Gereja memberikan damai sejahtera bagi para peserta sinode, demi kemajuan HKBP ke depan.

TULISAN INI TELAH DIMUAT DI HARIAN SINAR INDONESIA BARU Tanggal 11 September 2012